WASKITA

Maret 24, 2009

Ketika menulis pengantar untuk kumpulan puisi Paseduluran Tanpa Tepi yang ditulis oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh, lebih dikenal dengan Noe Letto, saya justru sibuk mencari judul apa yang tepat untuk menggambarkan citra Noe yang saya kenal, yang saya pahami, dan saya menemukan kosakata berasal dari bahasa Jawa yakni, “WASKITA” . Kata “WASKITA” ternyata tidak bisa diartikan secara tegas sebagaimana jenis kosakata pada umumnya-karena di dalamnya terkandung banyak makna, banyak pengertian dan pemahaman. Waskita bisa berarti awas, waspada, sensitif, tanggap, tune in, tapi juga bisa berarti visioner.

Maka ketika membaca Sabrang, terns terang selama ini saya menggunakan kewaspadaan. Dengan ‘waspada’ itulah saya dimungkinkan untuk tidak terlalu melenceng. Sejumlah lontaran pertanyaan untuk mengidentifikasi; apakah dia seorang penyanyi? Anehnya sejak saya mengenal Sabrang kecil belum pernah saya mendengar dia menyanyi. Saya mendengar dia menyanyi ya di televisi. Bahkan selama ini saya mengenal bahwa sejak kecil dia suka membaca buku sastra, tasawuf, dan buku apa saja. Bahkan akhir­akhir ini saya lebih banyak diskusi soal sastra, filsafat, pendidikan, kemanusiaan, termasuk bicara dari berbagai sudut mengenai social movernent dengannya. Dia juga fasih berbicara soal-soal fisika terkait dengan kehidupan alam semesta, dan ternyata dia mengambil jurusan Matematika dan Fisika di University of Alberta Kanada. Jadi, Sabrang lebih tepat disebwt sebagai pemikir, Wtelekttxal, penyanyi, atau apa? Atau sebaiknya saya tidak perlu memberikan label, karena kenyataannya dia tidak bisa dipahami secara sederhana, secara parsial.

Saya curiga lirik-liriknya

Saya tahu bahwa kebanyakan orang menangkap lirik-lirik Sabramg yang ada di tiga album Letto lebih kental berbincang tema-tema percintaan antara laki-laki dan perempuan, dan tak salah juga mereka menangkap seperti itu. Sabrang memberikan area pemaknaan bagi siapapun dan apapun maknanya.

Ruang Rindu menurut saya merupakan ekspresi Sabrang yang sangat nirbatas, sangat intim dan sangat privat terhadap Sang Pencipta. Lalu Allah merupakan sandaran dalam setiap wilayah kehidupan, tarikan detak segala jenis sukma-itulah Sandaran Hati. Beberapa saat kemudian, banyak orang barn ngeh, baru menyadari bahwa lirik-lirik Sabrang bukan hanya sekadar berbicara cinta mabuk kepayang antara perempuan dan laki-laki. Ada pemahaman lebih luas bahwa lirik-lirik Sabrang sangat spiritual, bagaikan melakukan Sholat malam. Itu bisa dirasakan pada lagu Sebelum Cahaya. Padahal bisa jadi lagu ini merupakan persembahan Sabrang untuk Bapaknya yang senantiasa selama ini hingga sekarang melakukan perjalanan sunyi. Lubang Di Hati, Ada kenyataan kerapuhan di hati manusia, yang oleh Sabrang digaxnbarkan dengan lubang-lubang, siapapun mnenerjemahkan keterlubangan dan berusaha mengisinya. Ada yang berupaya menutup dengan cinta, ada yang menutupinya dengan harta dan status sosial. Tak hanya itu, lirik lagu ini berindikasi muatan sufistik, tercermin dalam ungkapan “Apakah itu Kamu?”, Apakah itu Dia?”.

Dalam khasanah kearifan, kata kamu dan dia sama dengan Kamu dan Dia dengan awalan hurut besar, demikian sedikit persepsi Lubang Di Hati. Lalu Kepada Hati Itu, siapa sangka di balik lirik lagu ini ternyata terkandung keluhan Iblis soal kegagalannya dalam upaya melemahkan hati manusia yang tengah berpuasa. Puasa dalam pengertian mengendalikan hawa nafsu, puasa dalam pemahaman mengendalikan kuasa dan angkara murka. Tapi sekali lagi segala rahasia kebenarannya kembali pada Sabrang sendiri.

Saya tersenyum ketika mendengar sejumlah kalangan menduga, bahkan meyakini, bahwa pada syair-syair Sabrang ada campur tangan Bapaknya. Bahkan ada yang sangat teguh meyakini (menuduh) bahwa semua itu tak lain adalah karya Bapaknya. Tidak kebetulan saya adalah teman Bapaknya itu lebih dari 30 tahun dalam berbagai keterlibatan: pergaulan kemanusiaan, urusan sastra, teater, kebudayaan, bahkan kemasyarakatan, clan politik. Saya ingin percaya pada tuduhan itu, tetapi apa yang saya alami dan saya ketahui selalu tidak mengizinkan saya untuk percaya. Paling tidak ada tiga hal yang saya mengerti persis.

Pertama, Emha dan Novia bertahun-tahun sangat menahan diri untuk tidak mendekat ke setiap kesibukan kreatif Letto meskipun mereka serumah dan sestudio. Novia clan Emha punya kenikmatan untuk bersabar, menahan diri, sampai pada suatu hari membeli CD Letto di toko kemudian mendengarkannya di mobil atau di kamar sebagai konsumen murni dan sepenuhnya.

Kedua, menurut penilaian saya Bapaknya Sabrang malah bukan murni penyair. Puisi-puisinya terlalu sosial clan transparan, bahkan keras. Sedangkan Sabrang sangat lembut, halus, sebagaimana watak hidupnya yang selalu sangat menahan diri, demikianlah juga puisi-­puisinya. Menuntt taste saya karya Noe “lebih puisi” dibanding karya Bapaknya.

Ketiga, ada fakta yang lucu: tidak satu pun karya Noe dan Letto dicampuri oleh siapapun apalagi Bapaknya, sementara sejumlah lirik lagu Kiai Kanjeng malah dimintakan kepada Noe untuk menuliskannya. Suatu ketika saya menyaksikan Sabrang diwawancarai wartawan soal hiduhan keterlibatan Bapaknya dalam karya-karya dia, Sabrang menjawab secara cerdas, “sebetulnya Anda telah menghina dua orang sekaligus; yang pertarna Anda telah menghina ayah saya dan yang kedua Anda telah merrghiva saya ……..”

Saya kira Sabrang memiliki benih-benih ke-“waskita”-an yang luar biasa. Paling tidak kepiawaiannya tercermin dalam lirik-lirik yang dia hadirkan, selalu sarat makna, penuh arti sekaligus peka dan visioner. Seperti pikiran-pikirannya, tindakannya yang sering kali tak terduga. Sekurang­kurangnya saya “tidak percaya” bahwa Noe adalah “penyanyi”. Dalam pergesekan sehari-hari saya lebih banyak menjumpai ‘fisika’ dan ’sufisme’ pada Noe dibanding “band”.

Itulah ke-’waspada”-an saya terhadap Sabrang (Noe) sebagaimana kewaspadaan saya terhadap berbagai hal di lingkungan sekitar saya. Tentu Anda juga memiliki kewaspadaan tersendiri yang boleh jadi berbeda dengan saya. Itupun dengan harapan kewaspadaan saya tidak melahirkan prasangka yang kerapkali diyakini sebagai kesimpulan. Kalau toh saya harus menyimpuklan, bahwa kini Sabrang telah menikahi Uchie, tentu saya percaya hasil dari segala pertimbangan, kalkulasi dan perjalanan yang panjang.

Toto Rahardjo

Syukuran Pernikahan Noe dan Uchie

Nitiprayan, 4 Maret 2009

Tinggalkan Balasan